Jombang, 29 Agustus 2026 – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mendorong pesantren di Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sampah dan menjadi contoh bagi masyarakat di berbagai daerah. Menurutnya, lingkungan pesantren memiliki potensi besar untuk menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu karena aktivitas masyarakat di dalamnya berlangsung setiap hari dan melibatkan komunitas yang cukup besar. Pengelolaan sampah tidak seharusnya hanya berakhir pada proses pembuangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang menghasilkan manfaat ekonomi maupun energi. Langkah tersebut dinilai dapat membangun kebiasaan baru sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui inovasi dan keterlibatan bersama.
Zulhas menyampaikan dorongan tersebut saat menghadiri rangkaian Muktamar Literasi Santri 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung berbagai kegiatan yang dilakukan para santri, termasuk inovasi dalam mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat. Para santri menunjukkan sejumlah hasil pengolahan sampah, di antaranya biogas dan paving block. Praktik tersebut mendapat perhatian karena memperlihatkan bahwa lingkungan pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi pengembangan keterampilan, teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Zulhas, pesantren memiliki posisi yang strategis untuk menjadi contoh dalam penerapan kebiasaan pengelolaan sampah. Jumlah santri yang cukup besar di banyak pesantren membuat lembaga tersebut menghasilkan sampah dalam jumlah yang tidak sedikit setiap harinya. Jika sampah tersebut dipilah sejak dari sumber dan dikelola dengan metode yang sesuai, volume sampah yang dibuang dapat ditekan. Lebih jauh, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diolah menjadi produk tertentu, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi atau bahan yang bermanfaat. Pola tersebut dapat menjadi contoh sederhana yang kemudian diterapkan oleh masyarakat di lingkungan sekitar pesantren.
Dalam kegiatan tersebut, para santri memperlihatkan bagaimana sampah dapat diubah menjadi biogas. Sampah organik yang diolah melalui proses tertentu dapat menghasilkan gas yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pemanfaatan tersebut memberikan alternatif terhadap pola pengelolaan sampah yang selama ini hanya mengandalkan pembuangan. Selain mengurangi timbunan sampah, pengolahan menjadi biogas juga dapat memberikan manfaat langsung bagi lingkungan pesantren. Teknologi tersebut dapat terus dikembangkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing lembaga pendidikan.
Selain biogas, para santri juga memamerkan paving block yang dibuat dengan memanfaatkan material dari sampah. Produk tersebut menunjukkan bahwa sebagian sampah anorganik masih dapat memiliki nilai ekonomis apabila diproses secara tepat. Pengolahan menjadi produk baru juga dapat mengurangi jumlah material yang masuk ke tempat pembuangan. Bagi para santri, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman untuk memahami proses produksi dan membuka peluang pengembangan usaha berbasis lingkungan. Dengan demikian, kegiatan pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat ganda berupa menjaga kebersihan sekaligus menumbuhkan keterampilan kewirausahaan.
Zulhas menilai pendekatan semacam itu penting karena persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas tempat pembuangan. Jumlah sampah yang terus bertambah membutuhkan perubahan dalam cara masyarakat memperlakukannya sejak dari sumber. Pemilahan menjadi salah satu langkah awal yang penting karena sampah organik, anorganik, dan residu memiliki cara penanganan yang berbeda. Jika pemilahan dilakukan secara konsisten, material yang masih dapat dimanfaatkan akan lebih mudah diproses kembali, sementara residu yang benar-benar tidak dapat digunakan dapat dikurangi jumlahnya sebelum masuk ke tempat pemrosesan akhir.
Pengelolaan sampah berbasis energi juga dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam menghadapi kebutuhan energi. Sampah organik yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas, sedangkan teknologi tertentu memungkinkan sampah yang tidak dapat didaur ulang untuk diolah menjadi sumber energi. Namun, penerapan teknologi tersebut tetap perlu mempertimbangkan karakteristik sampah, kapasitas fasilitas, aspek keselamatan, serta dampak lingkungan. Karena itu, pengembangan pengelolaan sampah harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah.
Pesantren juga memiliki keunggulan dalam membangun budaya peduli lingkungan karena pendidikan dapat dilakukan bersamaan dengan praktik sehari-hari. Para santri dapat dilibatkan dalam kegiatan pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah. Kebiasaan tersebut kemudian dapat dibawa ketika mereka kembali ke keluarga dan masyarakat. Dengan jumlah alumni pesantren yang tersebar di berbagai daerah, pengetahuan mengenai pengelolaan sampah yang diperoleh selama berada di pesantren berpotensi menyebar lebih luas. Hal ini dapat membantu membentuk kesadaran lingkungan yang dimulai dari komunitas pendidikan.
Dorongan agar pesantren menjadi pelopor juga berkaitan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Sampah yang berhasil diolah menjadi produk bernilai dapat membuka peluang usaha baru apabila dikelola secara profesional. Produk daur ulang, pupuk, biogas, maupun berbagai hasil pengolahan lainnya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar. Kegiatan tersebut berpotensi melibatkan masyarakat sekitar sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh lingkungan pesantren. Dalam jangka panjang, pengelolaan sampah dapat menjadi salah satu bagian dari kegiatan produktif yang mendukung kemandirian ekonomi lembaga dan masyarakat.
Zulhas berharap praktik pengelolaan sampah yang dilakukan di lingkungan pesantren dapat berkembang dan ditiru oleh lembaga pendidikan maupun masyarakat di daerah lain. Pesantren dinilai dapat menjadi contoh nyata bahwa sampah bukan semata-mata persoalan kebersihan, tetapi juga memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi dan produk yang bermanfaat. Dengan membangun kebiasaan memilah sampah, mengembangkan teknologi sederhana maupun modern, serta melibatkan generasi muda dalam prosesnya, upaya pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan. Gerakan tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat sekaligus mendorong munculnya inovasi pengelolaan sampah di berbagai daerah di Indonesia.





