Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat Pulau Jawa adalah salah satu situs warisan dunia UNESCO yang menjadi benteng terakhir bagi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), salah satu mamalia paling langka di dunia. Ditetapkan sebagai warisan alam dunia sejak 1991, kawasan ini menjadi simbol penting upaya konservasi satwa liar Indonesia.
Surga Terakhir Badak Jawa
Badak Jawa kini hanya tersisa sekitar 80 ekor di alam liar, seluruhnya berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Satwa ini memiliki cula tunggal yang kecil, tubuh kokoh, dan sifat pemalu. Peran Ujung Kulon sebagai habitat terakhir menjadikannya kawasan dengan nilai konservasi sangat tinggi di mata dunia.
Keanekaragaman Ekosistem
Selain badak, taman nasional ini juga menjadi rumah bagi banteng, owa jawa, macan tutul, dan berbagai jenis burung endemik. Ekosistemnya yang kaya meliputi hutan hujan tropis, pantai berpasir putih, hingga terumbu karang yang memukau. Keindahan ini menjadikan Ujung Kulon destinasi ekowisata unggulan.
Sejarah dan Keunikan
Ujung Kulon memiliki sejarah geologis unik, termasuk letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 yang mengubah lanskap wilayah sekitarnya. Kini, perpaduan antara hutan lebat, pantai alami, dan pulau-pulau kecil seperti Pulau Peucang dan Pulau Handeuleum menjadi daya tarik wisatawan dan peneliti.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Ancaman bagi Ujung Kulon antara lain perburuan ilegal, penyakit pada badak, dan potensi bencana alam. Pemerintah bersama LSM konservasi melakukan patroli rutin, pemasangan kamera jebak, hingga riset genetik untuk menjaga kesehatan populasi badak. Upaya pembatasan jumlah wisatawan juga diberlakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem.
Kesimpulan: Taman Nasional Ujung Kulon bukan hanya kebanggaan Indonesia, tetapi juga harapan dunia untuk mempertahankan keberadaan Badak Jawa. Keberhasilan pelestarian di sini akan menjadi inspirasi global dalam melindungi satwa yang hampir punah.