Jakarta, 28 September 2026 – Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) memperkuat kesiapan dokter bedah untuk menghadapi berbagai situasi bencana yang berpotensi menimbulkan korban dengan kondisi kegawatdaruratan. Kesiapan tenaga bedah dinilai menjadi bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana karena korban dapat mengalami cedera berat yang membutuhkan tindakan medis dalam waktu cepat. Dokter bedah juga perlu mampu bekerja dalam kondisi fasilitas dan sumber daya yang terbatas. Karena itu, kemampuan penanganan pasien dalam situasi darurat terus menjadi perhatian organisasi profesi.
Indonesia memiliki risiko bencana yang beragam, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga erupsi gunung api. Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan perlu memiliki kemampuan yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan rumah sakit dalam keadaan normal. Situasi bencana dapat menyebabkan jumlah pasien meningkat dalam waktu singkat sehingga diperlukan penentuan prioritas penanganan secara tepat. Dokter bedah memiliki peran penting terutama terhadap korban dengan trauma yang membutuhkan tindakan segera.
PABI mendorong dokter bedah memahami sistem penanganan korban secara terorganisasi sejak tahap awal kedaruratan. Proses triase menjadi salah satu bagian penting untuk menentukan pasien yang membutuhkan pertolongan paling cepat berdasarkan tingkat keparahan cedera. Koordinasi dengan dokter dari bidang lain, perawat, tenaga kegawatdaruratan, serta tim penyelamat juga diperlukan. Sistem yang terintegrasi dapat membantu penggunaan sumber daya medis secara lebih efektif ketika jumlah korban melebihi kapasitas pelayanan normal.
Selain kemampuan klinis, dokter bedah yang diterjunkan dalam situasi bencana membutuhkan kesiapan menghadapi keterbatasan fasilitas. Pelayanan medis di lapangan tidak selalu memiliki peralatan selengkap rumah sakit sehingga keputusan tindakan harus mempertimbangkan kondisi pasien dan sumber daya yang tersedia. Kemampuan melakukan stabilisasi korban sebelum dirujuk menjadi bagian penting dari penanganan. Dokter juga harus mampu menentukan pasien yang dapat ditangani di lokasi maupun yang memerlukan fasilitas kesehatan dengan kemampuan lebih lengkap.
Penguatan kompetensi dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan simulasi penanggulangan bencana secara berkala. Simulasi memungkinkan tenaga kesehatan memahami pembagian tugas serta pola koordinasi ketika menghadapi kejadian dengan korban dalam jumlah besar. Pengalaman tersebut diperlukan agar respons medis dapat berlangsung cepat tanpa mengabaikan keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan. Evaluasi setelah pelatihan juga menjadi sarana memperbaiki prosedur yang masih memiliki kekurangan.
PABI turut memandang distribusi tenaga bedah sebagai aspek yang perlu diperhatikan dalam kesiapsiagaan bencana. Tidak semua wilayah memiliki jumlah dokter spesialis dan fasilitas bedah yang sama, sementara bencana dapat terjadi di daerah dengan akses transportasi terbatas. Sistem mobilisasi tenaga kesehatan diperlukan agar bantuan dapat segera diarahkan menuju wilayah terdampak. Dukungan pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi, dan lembaga penanggulangan bencana menjadi bagian penting dalam membangun mekanisme tersebut.
Kesiapan dokter bedah diharapkan memperkuat kemampuan sistem kesehatan Indonesia dalam mengurangi dampak medis ketika bencana terjadi. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi dapat meningkatkan peluang keselamatan korban, khususnya mereka yang mengalami trauma berat. PABI mendorong peningkatan kapasitas tenaga bedah berjalan beriringan dengan penguatan fasilitas, sistem rujukan, dan koordinasi lintas sektor. Dengan persiapan tersebut, pelayanan medis diharapkan tetap dapat diberikan secara optimal meskipun berlangsung dalam kondisi darurat dan penuh keterbatasan.





