Jakarta, 20 September 2026 – Tepat 63 tahun lalu, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy menyampaikan salah satu gagasan paling mengejutkan dalam sejarah perlombaan antariksa. Dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 September 1963, Kennedy mengusulkan agar Amerika Serikat dan Uni Soviet mempertimbangkan ekspedisi bersama ke Bulan. Gagasan tersebut muncul ketika kedua negara masih menjadi rival utama dalam Perang Dingin dan bersaing ketat dalam penguasaan teknologi antariksa. Kennedy mempertanyakan mengapa penerbangan pertama manusia menuju Bulan harus menjadi kompetisi nasional. Ia menilai eksplorasi antariksa dapat menjadi ruang baru bagi kerja sama damai antara dua negara adidaya. Pidato tersebut sekaligus menjadi pidato terakhir Kennedy di Majelis Umum PBB sebelum ia terbunuh dua bulan kemudian.
Usulan tersebut menjadi menarik karena hanya dua tahun sebelumnya Kennedy justru mendorong Amerika Serikat memenangkan perlombaan menuju Bulan. Pada 1961, pemerintahannya menetapkan tujuan membawa manusia ke permukaan Bulan dan mengembalikannya dengan selamat ke Bumi sebelum dekade 1960-an berakhir. Target tersebut tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan awal Uni Soviet dalam perlombaan antariksa. Soviet telah meluncurkan Sputnik pada 1957 dan kemudian mengirim Yuri Gagarin menjadi manusia pertama yang mengorbit Bumi pada 1961. Keunggulan tersebut memberikan tekanan politik dan teknologi yang besar terhadap Washington. Program Apollo kemudian menjadi salah satu jawaban Amerika Serikat terhadap pencapaian Soviet. Namun, di tengah persaingan itu Kennedy ternyata tetap mempertimbangkan kemungkinan kerja sama dengan Moskow.
Gagasan bekerja sama di bidang antariksa sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru bagi Kennedy. Dalam pertemuannya dengan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev di Wina pada Juni 1961, Kennedy sempat mengangkat kemungkinan kedua negara menjalankan proyek antariksa bersama. Khrushchev pada awalnya disebut memberikan tanggapan positif, tetapi kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kemajuan pembicaraan mengenai perlucutan senjata. Kesepakatan tidak tercapai dan perlombaan antariksa tetap berjalan. Amerika Serikat dan Uni Soviet terus mengembangkan roket, wahana, serta kemampuan penerbangan manusia secara terpisah. Meski demikian, Kennedy tidak sepenuhnya meninggalkan gagasan bahwa eksplorasi ruang angkasa dapat menjadi instrumen untuk mengurangi ketegangan. Ide tersebut kembali muncul secara jauh lebih terbuka dalam pidatonya di PBB pada September 1963.
Konteks politik dunia ketika Kennedy berpidato juga telah berubah dibandingkan tahun-tahun awal pemerintahannya. Krisis Rudal Kuba pada Oktober 1962 membawa Amerika Serikat dan Uni Soviet sangat dekat dengan konfrontasi nuklir. Setelah krisis tersebut, kedua negara mulai mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi risiko kesalahpahaman dan konflik langsung. Jalur komunikasi darurat antara Washington dan Moskow dibentuk, sementara Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris juga menyepakati Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Terbatas pada 1963. Kennedy menggunakan perkembangan tersebut sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa kerja sama antara dua negara yang bersaing tetap memungkinkan. Dalam pidatonya, ia mengakui perbedaan mendasar antara Washington dan Moskow masih ada, tetapi menilai perbedaan itu tidak harus menghalangi kesepakatan pada bidang tertentu. Antariksa kemudian menjadi salah satu bidang yang secara khusus disebutnya memiliki peluang besar untuk kerja sama.
Kennedy bahkan menyoroti besarnya duplikasi penelitian, pembangunan, dan pengeluaran apabila kedua negara menjalankan program Bulan secara terpisah. Ia mengusulkan agar ilmuwan dan astronaut dari kedua negara, bahkan dari berbagai negara di dunia, dapat bekerja bersama dalam eksplorasi ruang angkasa. Dalam visinya, manusia yang dikirim menuju Bulan tidak harus mewakili satu negara saja. Mereka dapat menjadi representasi dari kerja sama internasional yang lebih luas. Gagasan tersebut menunjukkan perubahan pendekatan dibandingkan retorika kompetitif yang mendominasi perlombaan antariksa sebelumnya. Kennedy tetap mempertahankan program Bulan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama membuka kemungkinan bahwa pencapaian tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi. Usulan itu kemudian menjadi salah satu bagian paling banyak dikenang dari pidatonya di PBB pada 20 September 1963.
Pemerintahan Kennedy ternyata tidak berhenti pada pidato. Dokumen pemerintah Amerika Serikat menunjukkan bahwa setelah usulan 20 September tersebut, Kennedy meminta NASA mengembangkan program substantif mengenai kemungkinan kerja sama dengan Uni Soviet dalam bidang antariksa. Arahan itu mencakup penyusunan proposal teknis yang dapat digunakan untuk membicarakan kerja sama, termasuk kemungkinan program pendaratan manusia di Bulan. NASA diminta bekerja bersama Departemen Luar Negeri dan lembaga terkait lainnya untuk mengevaluasi bentuk kerja sama yang realistis. Hal tersebut menunjukkan bahwa gagasan Kennedy bukan semata-mata kalimat simbolis di podium PBB. Pemerintahannya setidaknya mulai mempelajari bagaimana konsep tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembicaraan yang lebih konkret dengan Soviet. Namun, perkembangan politik berikutnya membuat gagasan tersebut tidak sempat berkembang jauh selama masa kepresidenannya.
Kennedy dibunuh di Dallas, Texas, pada 22 November 1963, hanya sekitar dua bulan setelah menyampaikan usulan tersebut. Presiden Lyndon B. Johnson yang menggantikannya tetap mempertahankan komitmen Amerika Serikat terhadap program pendaratan manusia di Bulan. Pemerintahan baru juga sempat menegaskan kembali tawaran mengenai kerja sama antariksa dengan Soviet. Dokumen diplomatik Amerika mencatat bahwa Duta Besar AS untuk PBB Adlai Stevenson pada Desember 1963 menyatakan pemerintahan Johnson tetap membawa gagasan kerja sama yang sebelumnya disampaikan Kennedy. Meski demikian, ekspedisi bersama Amerika Serikat-Uni Soviet menuju Bulan tidak pernah terwujud. Kedua negara akhirnya melanjutkan program antariksa masing-masing di tengah persaingan teknologi yang masih menjadi bagian penting Perang Dingin.
Amerika Serikat akhirnya berhasil mewujudkan target Kennedy pada Juli 1969 melalui misi Apollo 11. Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjadi manusia pertama yang berjalan di permukaan Bulan, sementara Michael Collins tetap berada di orbit Bulan dalam modul komando. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar program antariksa Amerika Serikat sekaligus tonggak penting dalam perlombaan antariksa. Namun, pendaratan itu berlangsung sebagai misi nasional Amerika Serikat dan bukan ekspedisi gabungan dengan Soviet seperti yang pernah dibayangkan Kennedy. Uni Soviet sendiri tidak pernah mengirim manusia ke permukaan Bulan. Persaingan antariksa kemudian secara bertahap bergerak menuju bentuk hubungan yang lebih kooperatif pada dekade-dekade berikutnya.
Pidato Kennedy pada 20 September 1963 akhirnya dikenang bukan hanya karena membicarakan Bulan, tetapi juga karena menggambarkan kemungkinan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jembatan di tengah persaingan geopolitik. Ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet memiliki perbedaan politik serta ideologi yang sangat tajam, Kennedy mengusulkan proyek yang menuntut kedua pihak berbagi penelitian, teknologi, biaya, dan tujuan. Rencana ekspedisi bersama itu memang tidak pernah terlaksana, tetapi dokumen pemerintah menunjukkan gagasan tersebut sempat dipertimbangkan secara serius. Sejarah kemudian membawa program Bulan Amerika Serikat ke arah yang berbeda melalui Apollo. Meski demikian, usulan Kennedy tetap menjadi salah satu contoh paling menonjol mengenai bagaimana eksplorasi antariksa pernah dipandang bukan hanya sebagai arena persaingan, tetapi juga sebagai peluang kerja sama internasional. Enam dekade kemudian, pidato tersebut tetap menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan antara diplomasi, Perang Dingin, dan eksplorasi ruang angkasa.




