CEO Polygon: “Tokenisasi Properti Bisa Ubah Industri Real Estate!” - Pintu  News

Konsep tokenisasi properti tengah menjadi fenomena baru di pasar investasi Asia. Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, kepemilikan properti kini dapat dibagi menjadi unit digital atau token yang bisa diperdagangkan layaknya saham, membuat investasi sektor real estat lebih terjangkau, likuid, dan transparan.


Bagaimana Tokenisasi Properti Bekerja

  • Sebuah properti — misalnya apartemen, gedung kantor, atau hotel — dinilai secara keseluruhan.

  • Nilainya dibagi menjadi ribuan bahkan jutaan token digital.

  • Investor dapat membeli sebagian kecil dari properti tersebut tanpa harus memiliki keseluruhan aset.

  • Transaksi dan kepemilikan dicatat di blockchain, sehingga aman dan tidak dapat diubah.


Faktor Pendorong Popularitas di Asia

  1. Akses Lebih Mudah untuk Investor Ritel – Membuka peluang investasi properti bagi masyarakat dengan modal kecil.

  2. Likuiditas Tinggi – Token dapat diperjualbelikan di pasar sekunder kapan saja.

  3. Transparansi dan Keamanan – Semua transaksi tercatat permanen di blockchain.

  4. Dukungan Regulasi – Singapura, Hong Kong, dan Jepang mulai mengatur dan mengizinkan perdagangan aset tokenisasi.


Pemain Kunci di Pasar Asia

  • RealBlocks Asia – Platform tokenisasi properti komersial di Singapura

  • PropChain HK – Spesialis tokenisasi properti residensial di Hong Kong

  • LandToken JP – Fokus pada proyek real estat ramah lingkungan di Jepang

  • BrickByte – Startup Indonesia yang tokenisasi properti wisata dan villa


Proyeksi Pasar

Menurut laporan Asia Digital Assets Outlook 2025, pasar tokenisasi properti di Asia diperkirakan tumbuh 30% per tahun dan bisa mencapai US$80 miliar pada 2030.


Tantangan yang Harus Diatasi

  • Keragaman regulasi antar negara Asia

  • Edukasi investor terkait risiko dan mekanisme tokenisasi

  • Volatilitas harga di pasar aset digital


Kesimpulan:
Tokenisasi properti membuka babak baru investasi real estat di Asia dengan menghadirkan akses yang lebih inklusif, likuiditas tinggi, dan transparansi. Jika tren ini terus berkembang, Asia berpotensi menjadi pusat global untuk investasi properti digital.