Pandeglang, 6 September 2026 – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai berdampak terhadap kesehatan sejumlah warga di Kabupaten Pandeglang, Banten. Beberapa warga mengeluhkan sesak napas, batuk, tenggorokan tidak nyaman, hingga mata terasa perih setelah terpapar material vulkanik saat beraktivitas di luar rumah. Abu mulai terasa sejak Sabtu malam dan terlihat menempel pada kendaraan, teras rumah, kaca jendela, serta berbagai permukaan lainnya. Kondisi tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan dengan tingkat ketebalan abu yang berbeda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Pandeglang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan partikel halus. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan selama abu masih berada di udara.
Keluhan gangguan pernapasan antara lain disampaikan warga yang berada di Kecamatan Menes. Abu vulkanik mulai terasa di wilayah tersebut sekitar pukul 20.00 WIB pada Sabtu malam. Warga yang masih melakukan perjalanan menggunakan kendaraan merasakan debu masuk ke saluran pernapasan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Beberapa orang juga mengeluhkan napas terasa lebih sesak dibandingkan kondisi normal. Selain gangguan pernapasan, abu yang terbawa angin menyebabkan mata terasa perih seperti terkena butiran pasir halus. Warga kemudian memilih mengurangi aktivitas di luar rumah untuk menghindari paparan yang lebih lama.
Material abu juga terlihat mengendap di lingkungan permukiman warga. Lapisan berwarna gelap ditemukan pada kendaraan yang diparkir di luar, halaman, teras, dan sejumlah bagian bangunan. Beberapa warga memilih menutup pintu dan jendela agar abu tidak masuk ke dalam rumah. Kondisi serupa dilaporkan dari wilayah Carita, Labuan, Jiput, Pulosari, Menes, hingga kawasan pusat Pandeglang. Di Karangtanjung, warga pada Minggu pagi terlihat membersihkan abu yang mengendap di halaman dan kendaraan. Sebaran yang cukup luas menunjukkan material vulkanik dapat bergerak mengikuti arah serta kecepatan angin dari kawasan Selat Sunda menuju daratan Banten.
Kepala BPBD-PK Kabupaten Pandeglang Riza Ahmad Kurniawan membenarkan adanya laporan abu vulkanik yang mencapai sejumlah kawasan permukiman. Pergerakan material tersebut dipengaruhi kondisi angin sehingga tingkat paparan tidak selalu sama pada setiap wilayah. BPBD terus mengumpulkan informasi dari kecamatan dan masyarakat untuk memetakan kawasan yang terdampak. Pemantauan juga diperlukan karena arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif cepat mengikuti dinamika atmosfer. Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap memperhatikan kondisi udara di lingkungan masing-masing. Aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi apabila abu masih terlihat cukup jelas.
Dampak kesehatan menjadi perhatian karena abu vulkanik terdiri atas partikel halus yang dapat terhirup ketika seseorang berada di luar ruangan. Paparan dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, serta rasa tidak nyaman saat bernapas. Partikel yang masuk ke mata juga dapat menimbulkan rasa perih dan iritasi. Risiko tersebut dapat lebih terasa pada anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang mempunyai riwayat asma atau gangguan pernapasan. Warga dari kelompok rentan dianjurkan lebih banyak berada di dalam ruangan selama kondisi udara belum membaik. Apabila muncul gangguan pernapasan yang berat atau tidak kunjung membaik, masyarakat disarankan segera memperoleh pemeriksaan medis.
Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak mulai melakukan langkah pencegahan untuk membantu masyarakat mengurangi paparan. Puskesmas Labuan, misalnya, membagikan masker kepada warga setelah hujan abu vulkanik mencapai kawasan tersebut. Masker diharapkan dapat mengurangi jumlah partikel yang terhirup ketika warga harus melakukan aktivitas di luar rumah. Selain menggunakan masker, masyarakat dianjurkan memakai pelindung mata untuk mencegah abu masuk langsung ke mata. Pintu dan jendela rumah juga dapat ditutup sementara apabila abu masih bertebaran. Makanan, minuman, serta sumber air perlu dilindungi agar tidak tercemar material vulkanik.
Warga juga diminta berhati-hati ketika membersihkan abu yang telah mengendap. Material yang sudah berada di permukaan dapat kembali beterbangan apabila langsung disapu dalam keadaan kering. Abu dapat dibasahi secukupnya sebelum dibersihkan untuk mengurangi kemungkinan partikel kembali masuk ke udara. Penggunaan masker selama proses pembersihan tetap dianjurkan karena material halus dapat dengan mudah terhirup. Kendaraan dan bagian rumah yang terkena abu juga perlu dibersihkan secara perlahan agar tidak menimbulkan debu tambahan. Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena paparan dapat terjadi bukan hanya ketika abu turun, tetapi juga saat endapan kembali beterbangan.
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga setelah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Rangkaian erupsi menghasilkan lontaran material, lava pijar, serta abu yang kemudian terbawa angin menuju berbagai wilayah. Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Warga di kawasan pantai Banten juga diminta mengikuti perkembangan informasi mengenai aktivitas Anak Krakatau. Status Siaga menunjukkan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan tanpa melakukan tindakan yang dapat mendekatkan diri terhadap kawasan berbahaya. Pemantauan gunung terus dilakukan untuk melihat perubahan intensitas maupun karakter erupsi.
Selain hujan abu, sebagian warga Pandeglang melaporkan suara dentuman dan getaran yang terasa selama periode aktivitas Anak Krakatau. Di Pulosari, warga mengaku kaca jendela rumah sempat bergetar ketika suara dentuman terdengar. Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan aktivitas erupsi di kawasan Selat Sunda. Meski demikian, dampak yang saat ini paling banyak dirasakan masyarakat di daratan adalah keberadaan abu vulkanik. BPBD meminta warga mengutamakan langkah perlindungan diri dan tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung juga perlu diperoleh melalui pengumuman resmi agar masyarakat tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan fasilitas kesehatan akan terus memantau dampak sebaran abu terhadap masyarakat Pandeglang. Keluhan sesak napas dan mata perih menjadi perhatian karena menunjukkan paparan material vulkanik sudah dirasakan secara langsung oleh sebagian warga. Penggunaan masker, pelindung mata, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta menjaga rumah tetap tertutup menjadi langkah yang dianjurkan selama kondisi tersebut berlangsung. Warga yang mengalami keluhan kesehatan lebih berat diminta tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Sebaran abu dapat berubah mengikuti arah angin sehingga kewaspadaan tetap diperlukan meskipun kondisi di suatu wilayah mulai membaik. Pemantauan akan terus dilakukan selama aktivitas Anak Krakatau dan potensi hujan abu masih berlangsung.





