Jakarta, 25 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat dan membuat kurs jual di sejumlah bank besar nasional nyaris menyentuh level Rp 17.900 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan pasar global, ketidakpastian ekonomi internasional, serta penguatan mata uang dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar dan masyarakat karena nilai tukar rupiah kini berada di level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Di sejumlah bank nasional, kurs jual dolar AS dilaporkan bergerak mendekati Rp 17.900, sementara kurs beli berada sedikit lebih rendah tergantung kebijakan masing-masing bank. Pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat, ketegangan geopolitik global, serta arus modal asing yang cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Selain itu, meningkatnya permintaan dolar untuk kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri juga ikut memberi tekanan terhadap mata uang domestik.
Pengamat ekonomi menilai penguatan dolar AS saat ini memang terjadi hampir terhadap banyak mata uang dunia, bukan hanya rupiah. Investor global cenderung kembali menempatkan dana pada aset berbasis dolar karena dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan konflik geopolitik internasional. Situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan cukup besar dalam perdagangan global. Meski begitu, para analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga dibanding sejumlah negara berkembang lainnya.
Bank Indonesia disebut terus memantau perkembangan pasar keuangan dan melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, serta koordinasi dengan pemerintah menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor melalui pengendalian inflasi, stabilitas fiskal, dan peningkatan cadangan devisa negara.
Pelemahan rupiah tentu membawa dampak terhadap berbagai sektor ekonomi. Harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga pembayaran utang dalam mata uang asing berpotensi meningkat apabila kurs dolar terus menguat. Di sisi lain, sektor ekspor justru dapat memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Para pelaku usaha dan masyarakat kini terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah sambil berharap stabilitas pasar keuangan global segera membaik dalam beberapa waktu ke depan.





