Jakarta, 17 September 2026 – Perubahan pola komunikasi masyarakat membuat transformasi para dai menjadi semakin penting dalam aktivitas dakwah masa kini. Kehadiran media sosial, platform video, podcast, hingga berbagai layanan berbasis kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan keagamaan. Ceramah yang sebelumnya banyak berlangsung melalui pertemuan langsung kini dapat menjangkau masyarakat dalam hitungan detik melalui ruang digital. Kondisi tersebut memberikan peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan mengenai kualitas informasi, ketepatan pesan, serta kemampuan dai memahami karakter audiens. Transformasi karena itu tidak cukup dimaknai sebagai perpindahan dari mimbar menuju media sosial. Para dai perlu mengembangkan kemampuan komunikasi dan literasi teknologi tanpa meninggalkan kedalaman ilmu serta tanggung jawab dalam menyampaikan ajaran agama.
Perubahan karakter audiens menjadi salah satu alasan transformasi tersebut diperlukan. Generasi yang tumbuh bersama internet terbiasa mendapatkan informasi secara cepat melalui video pendek, mesin pencarian, dan media sosial. Mereka dapat membandingkan berbagai pendapat hanya melalui telepon genggam dan memiliki akses terhadap pembicara dari berbagai negara. Pola tersebut berbeda dengan masa ketika masyarakat lebih banyak memperoleh pengetahuan keagamaan melalui lingkungan keluarga, sekolah, masjid, maupun pengajian di sekitar tempat tinggal. Dai kini berhadapan dengan audiens yang memiliki sumber informasi jauh lebih beragam. Kemampuan menjelaskan persoalan secara runtut dan mudah dipahami karena itu semakin dibutuhkan agar pesan keagamaan tetap relevan di tengah banjir informasi.
Transformasi juga diperlukan karena ruang digital tidak selalu menyediakan informasi keagamaan yang akurat dan memiliki konteks memadai. Potongan ceramah dapat tersebar tanpa penjelasan lengkap dan menghasilkan pemahaman berbeda dari maksud awal pembicara. Pernyataan berdurasi panjang juga dapat dipotong menjadi beberapa detik sebelum kemudian menjadi viral. Dalam situasi tersebut, dai perlu memahami bahwa komunikasi digital mempunyai karakter berbeda dibandingkan ceramah tatap muka. Pemilihan kata, struktur penjelasan, serta konteks menjadi semakin penting karena materi dapat dikonsumsi kembali oleh orang yang tidak mengikuti pembahasan sejak awal. Kehati-hatian tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab ketika dakwah memasuki ruang publik digital.
Meski demikian, transformasi tidak berarti setiap dai harus mengejar popularitas atau mengikuti seluruh tren media sosial. Jumlah pengikut, penonton, dan interaksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penyampaian pesan keagamaan. Kompetensi keilmuan tetap menjadi fondasi utama sebelum seseorang berbicara mengenai persoalan agama kepada masyarakat. Penguasaan sumber, pemahaman konteks, kemampuan membedakan persoalan yang memiliki kesepakatan dan perbedaan pendapat, serta kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan tetap diperlukan. Teknologi seharusnya menjadi sarana memperluas manfaat dari kompetensi tersebut, bukan menggantikannya. Popularitas tanpa fondasi pengetahuan justru berpotensi memperbesar penyebaran informasi yang kurang tepat.
Langkah transformasi dapat dimulai dengan meningkatkan literasi digital. Dai perlu memahami cara kerja berbagai platform yang digunakan masyarakat, termasuk perbedaan karakter antara video pendek, video panjang, siaran langsung, podcast, dan tulisan. Materi yang cocok untuk ceramah selama satu jam belum tentu efektif ketika langsung dipindahkan menjadi video berdurasi satu menit. Pesan perlu disusun kembali tanpa menghilangkan konteks penting yang menentukan pemahamannya. Judul dan pembukaan dapat dibuat menarik, tetapi tidak seharusnya mengubah substansi hanya untuk mengejar perhatian. Kemampuan tersebut memungkinkan dakwah menjangkau audiens digital tanpa terjebak pada pola komunikasi yang terlalu menyederhanakan persoalan.
Kemampuan memahami audiens juga menjadi bagian penting dari proses transformasi. Materi untuk remaja tentu dapat menggunakan pendekatan berbeda dibandingkan materi bagi orang tua, pekerja, mahasiswa, atau masyarakat dengan latar belakang pendidikan tertentu. Perbedaan tersebut bukan berarti substansi ajaran harus diubah, melainkan cara penyampaiannya dapat disesuaikan agar lebih mudah dipahami. Contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membantu menjelaskan persoalan yang kompleks. Bahasa yang sederhana juga tidak berarti pembahasan harus kehilangan kedalaman. Dai yang memahami audiens dapat menentukan kapan sebuah persoalan cukup dijelaskan secara singkat dan kapan membutuhkan pembahasan lebih panjang.
Teknologi kecerdasan buatan turut menghadirkan tantangan baru bagi dunia dakwah. Masyarakat kini dapat mengajukan pertanyaan mengenai agama kepada sistem digital dan memperoleh jawaban dalam waktu singkat. Namun, teknologi semacam itu dapat menghasilkan informasi yang keliru, kehilangan konteks, atau tidak memahami kompleksitas sebuah persoalan. Para dai karena itu memiliki ruang untuk memperkuat peran sebagai pemberi penjelasan yang memiliki dasar keilmuan dan memahami kondisi masyarakat. Pada saat yang sama, teknologi dapat digunakan untuk membantu pekerjaan administratif, menyusun arsip materi, menerjemahkan bahan, atau memetakan pertanyaan yang banyak muncul. Penggunaan teknologi tetap membutuhkan verifikasi manusia, terutama ketika menyangkut penafsiran dan keputusan keagamaan.
Transformasi juga membutuhkan kemampuan menghadapi perbedaan pendapat di ruang digital. Media sosial sering mendorong percakapan berlangsung cepat dan emosional karena konten yang menimbulkan perdebatan dapat mendapatkan perhatian besar. Dai perlu menghindari pola komunikasi yang menjadikan perbedaan sebagai bahan untuk memperbesar konflik. Penjelasan mengenai adanya variasi pandangan dalam tradisi keilmuan dapat membantu masyarakat memahami bahwa tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan pertentangan. Sikap menghormati pihak lain juga dapat menjadi bagian dari contoh yang diberikan kepada audiens. Dakwah kemudian tidak hanya terlihat melalui isi ceramah, tetapi juga melalui cara seseorang merespons kritik dan perbedaan.
Kolaborasi menjadi langkah lain yang dapat dilakukan untuk mempercepat transformasi. Dai tidak harus menguasai seluruh keterampilan produksi digital seorang diri. Mereka dapat bekerja bersama peneliti, editor, desainer, videografer, pengelola media sosial, serta orang yang memahami keamanan digital. Pembagian peran memungkinkan dai lebih fokus pada substansi sementara aspek teknis ditangani oleh orang dengan kompetensi sesuai bidangnya. Sistem pemeriksaan materi sebelum publikasi juga dapat dibangun untuk mengurangi kemungkinan kesalahan. Pendekatan tersebut membuat aktivitas dakwah digital berkembang dari kegiatan individual menuju pengelolaan komunikasi yang lebih profesional dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, transformasi para dai dapat dimulai dari tiga fondasi yang berjalan bersamaan, yakni memperkuat kompetensi keilmuan, memahami perubahan masyarakat, dan menguasai sarana komunikasi baru. Teknologi akan terus berkembang dan kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi kemungkinan terus berubah. Karena itu, metode dakwah juga membutuhkan kemampuan beradaptasi tanpa harus kehilangan prinsip dan substansi yang menjadi landasannya. Dai yang mampu menjelaskan persoalan secara mendalam sekaligus menggunakan bahasa yang relevan memiliki peluang lebih besar menjangkau masyarakat lintas generasi. Transformasi bukan berarti meninggalkan metode dakwah lama, tetapi memperluas cara menyampaikan pesan sesuai kebutuhan zaman. Dengan pendekatan tersebut, ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan dan komunikasi keagamaan yang lebih luas, terukur, serta bertanggung jawab.




